Lebaran tahun ini, 20 September 2009, adalah lebaran kali pertama keluarga besar Pulau Sula, tanpa kehangatan Bapak, Bapak HS Habib Adnan. Untuk menghangatkan kembali apa yang selalu Bapak gariskan kepada kami, anak-anak, cucu dan cicitnya, yaitu berupa kerukunan, saling tolong menolong, bersedia untuk menjalin silaturrahmi, dirancanglah untuk melakukan syawalan dalam bentuk kemah di sebuah desa dingin, di Bedugul. Desa kecamatan ini sekitar 50 km disebelah utara kota Denpasar.
Sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, rombongan telah sampai di Bedugul, Selasa, 22 September 2009, sekitar tengah hari, dan lanjut dengan berbagai kegiatan hiburan antar anak-anak kecil ataupun anak besar, termasuk yang sudah mahasiswa. Kali ini yang bertindak sebagai panitia pelaksana adalah Ulfi (Malang), Uki & Tisa (Bandung), Aping (Denpasar) , Rida (Bekasi) dan banyak yang lain lagi. Acara berlangsung sampai menjelang tengah malam, dihangatkan oleh api unggun. Ya ada yang bernyanyi, dengan segala macam lagu, baik yang hanya setengah lagu ataupun yang utuh. Maklum sang organis Ahsan (Masbagik) selalu membuat ulah kalau mengiringi sang penyanyi. Yang jelas, lagu mbah Surip tetap jadi lagu kebangsaan kali ini ..... tak gendong kemana-mana! Saya dari Pekanbaru, Selasa siang baru berangkat dengan pesawat Mandala ke Jakarta, lalu ganti pesawat ke Surabaya, dan juga tetap ganti pesawat untuk ke Ngurah Rai di Denpasar.
Pukul 21.00 WIB atau 22.00 WIT, Dedek menjemput saya. 3 tas bagasi tidak ternagkut oleh pesawat Mandala, belum tahu dimana soalnya. Saya dan nyonya diantar ke Mengwi, depan kantor Polsek, dan kemudian dilanjutkan dengan mobil Lutfi dan Sufian. Jam 24.00 sampailah kami di Bedugul yang dingin. Ibu dan adik-adik masih ngumpul di Vila, dan bukan di kemah. Adik-adik yang di 3 kemah, dalam kemah besar yang dapat menampung 10 sampai 15 orang. Aku tidur di Vila dengan ibu dan Adib. Acara pagi hari sampai siang hari banyak ragam. Seleboran , main bola, makan krupuk, dan masih banyak yang lain lagi. Disela-sela mainan, ada perebutan dan pembagian THR. Dari ribuan, dua ribuan, lima ribuan, sepeuluh ribuan, atau lima puluh ribuan. Biasanya yang sudah bekerja, membawa THR ini, untuk disebar-sebarkan dan direbut-rebutkan. Disinilah puncak interaksi dan guyonan yang selalu dikenang. Walhasil, setelah selesai masing-masing menghitung peruntungannya masing0-masing. Ada yang dapat 50 ribuan atau ada yang sampai 100 ribuan. Wah enak tenaan.
Wal hasil, itulah kenang-kenangan yang selalu kekal di ingatan keluarga. Guyon, tolong menolong, keakraban dan menggembirakan hati sang Ibu.
Semoga Ibu selalu gembira, walau Bapak hanya dapat menyaksikan kegembiraan ini dari rumahnya yang baru di Kepaon. Salam Syawalan !
Selasa, 20 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar