Ketika kawan saya Hary B. Koriun masih di desa Ubud, Bali, 10 Oktober 2010, mengikuti Ubud Writer and Reader Festival, saya mengirimkan SMS, apakah betul di desa Ubud, ada masjid ? Lalu dijawab olehnya, katanya memang ada, tapi agak jauh dari tempat diadakannya festival. Tentu ada yang bertanya, mengapa tiba-tiba saya bertanya demikian ? Paling tidak pertanyaan ini muncul ketika televisi Indonesia akhir-akhir ini banyak memberitakan kasus gereja HKBP, di daerah Bekasi, dimana sekelompok orang menolak kehadiran jemaat HKBP yang melakukan kegiatan ibadah minggu, di ruang terbuka, di suatu desa di Bekasi. Kemudian kasus ini berujung dengan ditikamnya pendeta dari jemaat itu, yang menyebabkan luka-luka.
Perbincangan masalah penolakan pendirian gereja HKBP, kemudian beralih kepada dituntutnya agar Surat Keputusan Bersama Menteri yang mengatur masalah pendirian rumah ibadah, dicabut sahaja. Sebab, alasannya adalah SKB itulah sebagai biang keladi dari konflik antar kelompok masyarakat yang hendak mendirikan rumah ibadah. Kalangan pemerintah menolak tuntutan pencabutan SKB itu, sebab hal itu berlaku untuk semua daerah Indonesia, dan bukan semata di Bekasi.
Artinya, pendirian masjid di daerah mayoritas non Muslim, dikenai juga ketentuan SKB ini. Supaya apa ? Agar setiap pendirian rumah ibadah, senantiasa juga mempetimbangkan suasana dan aspirasi rakyat tempatan/lokal, dan bukan semata-mata aspirasi masyarakat kaum minoritas.
Berkaitan dengana itulah, saya bertanya kepada bung Hary B. Koriun, seperti yang saya sebut di awal tulisan ini.
Kebetulan, tanggal 15 Oktober 2010, Jumat, saya harus ke Denpasar, untuk urusan keluarga, ibu saya, sakit. Tentu saja, saya menyempatkan diri juga untuk raun-raun di sekitar kota Denpasar, menyaksikan sebuah pulau yang setiap saat kedatangan pendatang, sebagai turis dan sebagai orang yang mencari manfaat atas kedatangan turis ini.
Turis asing dari mancanegara selalu datang ke Bali, dan daerah ini merupakan daerah tujuan wisata utamanya. Walaupun demikian, yang menghidupkan pulau Bali, bukan hanya turis asing, tetapi juga turis dari daerah-daerah lain di Indonesia. Misalnya dari kota-kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Banten, Lombok dan lain-lain. Kalau musim liburan, rombongan ibu-ibu dan anak-anak sekolah, selalu sahaja memenuhi jalan-jalan di Pulau Bali. Kalau turis lokal itu, berdatangan dari Jawa, maka wajar sahaja kalau mayoritas agama turis lokal itu adalah Islam. Saya singgung soal agama disini dalam rangkaian turis lokal, karena implikasi yang ditimbulkannya adalah diperlukannya pelayanan kepada mereka dalam hal makanan yang sesuai dengan agama yang mereka peluk.
Hal ini untuk menjelaskan bahwa dari aspek kuliner, disetiap pojok kota di semua sudut pulau ini, tumbuh secara alami, kuliner yang memberikan isyarat bahwa di dalam warung-warung itu, disediakan makanan dan minuman yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama Islam. Misalnya saja warung Padang, soto kudus, pecel lele lamongan, sate madura, lalapan Sunda, nasi uduk Betawi, soto Makasar dan seterusnya.
Keadaan ini tentu saja akan berimplikasi datangnya pendatang penjaja makanan (kuliner) yang beragama Islam.
Sabtu, 16 Oktober 2010, saya dengan adik-adik saya, Adib Maemun, Uswatun Hasanah dan Usri Indah, berjalan-jalan ke Ubud. Karena ramainya kendaraan, yang akhirnya memaksa saya mengikuti arus ken daraan, saya putuskan untuk mengunjungi Museum Antonio Blanco. Museum ini dibangun di atas tanah sekitar 2 hektar, bangunan utama, berarsitekturkan Eropa Spanyol, dengan kubah di tengahnya, dan bangunan terdiri dari dua tingkat. Tak boleh menggunakan kamera di dalam museum. Banyak menampilkan lukisan wanita, dan tentu saja, banyak juga lukisan wanita tanpa busana. Tentu saja tak perlu khawatir dengan UU Pornografi, karena adanya klausula bahwa lukisan sebagai karya seni, tidak masuk dalam kategori yang dimaksud oleh pornografi. Artinya, kawan-kawan seniman di Bali, tak perlu terus menerus resah dengan kekhawatiran-kekhawatiran atas diundangkannya UU Pornografi.
Selain lukisan, kamar kerja Blanco juga boleh disaksikan. Mengambil gambar di luar gedung utama dan juga di ruang-ruang pamer pinggiran, dibolehkan. Sayang betul kalau tidak bergambar disini. Sebagai catatan, karcis masuk Museum Blanco ini, untuk turis asing 50 ribu, dan turis seperti saya ini cuma 30 ribu per orang. Ada service tambahan dari pengelola, yaitu disediakannya soft drink berupa oranye dingin, yang tentu saja sayang untuk tidak dinikmati.
Obyek kedua yang saya kunjungi adalah masjid Ubudiyah, sebuah masjid yang menurut kabar awalnya diprakarsai oleh pelukis-pelukis yang beragama Islam di Ubud, diantaranya W. Hardja. Kelompok seniman ini, kabarnya, dulu, sekitar tahun 1993 an, dengan disponsori ICMI, mengadakan pameran lukisan di Jakarta, dan hasil penjualan lukisan itu, dipakai untuk membeli tanah, yang sekarang menjadi Ruang Serba Guna Ubudiyah. Sebelum terjadi Bom Bali I, bangunan ini memang menjadi sebuah masjid. Namun selama 3 tahun, setelah adanya Bom Bali, masjid ini tidak boleh digunakan, karena tiadanya izin. Namun 3 tahun belakangan ini, sudah boleh digunakan, dengan nama Gedung Serba Guna Ubudiyah. Digunakan untuk pendidikan, pengajian, anak-anak dan ibu-ibu. Juga untuk sholat, termasuk untuk sholat Jumat. Pengeras suara tidak digunakan, mengingat tetangga kanan kiri yang selalu mengajukan komplain. Jadi, kalau Jumatan, paling digunakan pengeras suara khusus di dalam ruangan sahaja, dan tak sampai ke luar. Hanya saja, yang selalu menjadi masalah adalah kalau Jumatan adalah soal parkir. Maklum, jumlah jemaah terus menerus bertamabah, dan rata-rata mereka pasti berkendaraan. Apalagi memiliki kendaraan saat sekarang ini di Indonesia, tidaklah terlalu sulit.
Ketika sore ini saya mengunjungi Gedung SG Ubudiyah, melalui gang sempit yang agak gelap sepanjang 20 meter, saya saksikan 3 orang pemuda yang mengajari agama pada sekitar 60 orang anak-anak seumur 6-10 tahunan. Saya terharu, karena pendidikan agama terus menerus mereka pelihara dan juga mereka sanggup memelihara kehidupan keagamaan mereka ditengah masyarakat Bali yang amat beragam. Dialog kebudayaan dalam kehidupan di Bali, mereka jalani dan mereka saksikan sendiri. Rumidi dan Abdul Karim, begitu nama pengelola gedung serba guna itu.
Setelah selesai melakukan sholat menghormati masjid, Tahiyyatul Masjid, saya bersama adik-adikpun permisi, sambil mengambil gambar suasana masjid ini.
Semoga semangat Ubud, semangat Ubudiyah, mampu memberikan pesan kedamaian pada kehidupan negeri ini. Salam Ubudiyah dari Ubud !
Jumat, 22 Oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)